CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

Pages

Thursday, December 1, 2011

Mask for those who's a mess inside


People live their lives... but... DO they?

Raise your hand if you’re one of those who want to be perfect, well, I definitely going to raise mine... Who don’t want to be? But of course the phrase “No one’s perfect” keep being inside of our mind and remind us that no one IS perfect.

But how about those who are over obsessed to be perfect? These kind of people would do anything just so they be looked perfect and good to everyone. Sort of scary actually, because the would do anything, even put on masks to cover their messy personality. They are always trapped in this endless cycle of being perfect. Every time a person look better than them, they improve themselves, even they’re not afraid to be a copycat and copy other’s style and abilities.

This over-obsessed behavior might be dangerous for them or even for their surroundings, because they’re arrogant. They always see that every one’s lower than them. They see that it’s only them who are able to do things. They underestimate person.

Most of people already consider them as a “perfect person” because they usually put on a very good mask for the “first impression” thing. They put on a very good disguise by telling good things about them.


But of course, again, no one is perfect, even sometimes they forgot to put on their mask and go out with their messy personality on. Maybe they feel perfect, but most people feel sorry for them. Are they really that desperate to do good? Or are they actually that bad in doing things with their own way? Are their “Box of Life” really that small and closed? How sad!
People put on masks... but remember, nothing’s better than the original, so just be yourself, you are beautiful when you think you are :)

Wednesday, June 29, 2011

Lanjutan Birthstones (18)


Selesai makan—punya Josh tidak habis—aku mencuci piring kotornya, dibantu Sam, sementara Tara berbicara pelan dengan Josh mengenai sesuatu yang membuat dahi Josh berkerut. Sesekali aku merasakan tatapannya menghujam bahuku dan Sam yang menempel satu sama lain didepan bak cuci piring. Aku merasa agak jengah, tetapi Sam santai saja, bahkan sempat tersenyum tipis kepadaku.

Selesai mencuci piring, aku dan Sam duduk kembali di meja makan, mengobrol pelan tentang hal – hal ringan, seperti pekerjaan rumah, guru – guru yang kusukai dan tidak kusukai, film, novel, dan hal – hal ringan lainnya.

Ketika jam di dapur menunjukkan angka 9, Josh pamit pulang.Well, bukan pamit, tepatnya, tetapi langsung pulang tanya mengucapkan sepatah katapun.

Tinggallah aku, Sam dan Tara di dapur. Tara pamit sebentar untuk mengambil buku – buku di mobilnya. Aku dan Sam duduk dalam diam di meja makan. Aku bisa mendengar tetes air di bak cuci.

“ Al?” Sam memulai.
“ Yeah?”
“ Apa pendapatmu tentang Josh?” tanyanya, aku tersentak.
“ Mengapa kau menanyakan hal itu?” tanyaku.
“ Hanya ingin tahu,” katanya polos sambil mengangkat bahu.
“ Well… dia… teman yang baik,” jawabku diplomatis.
“ Hanya itu?”
“ Memangnya apa lagi?” aku balik bertanya. Dia tersenyum.
“ Kenapa tersenyum?”
“ Tidak apa – apa,” jawabnya ringan.
“ Dasa…”
“ Hei, ummmm, Alice, aku benar – benar minta maaf, aku harus pergi,” Tara tiba-tiba berkata dari pintu dapur.
“ Ah? Kenapa?”
“ Well, aku ada urusan mendadak, tidak apa - apa kan? Masih ada Sam, kok.”
“ Baiklah…” ujarku sambil menghela napas.
“ Terima kasih, Alice! Kau memang baik sekali!” ujar Tara, dia lalu mengecup pipiku, tapi lalu melempar pandangan galak kearah Sam. “ Kalau sampai ada sesuatu yang menimpanya…” dia memulai ancamannya.
“ Aku yang bertanggung jawab,” sela Sam.

Tara lalu pamit pulang. Aku dan Sam mengantarnya menuju Audi-nya. Ketika sampai di mobilnya, Tara lagi-lagi melempar pandang galak kearah Sam yang hanya ditanggapi dengan tawa. Setelah mengucapkan selamat tinggal, aku menaiki undakan dan masuk kedalam rumah, Sam mengekor dibelakangku dan menungguku ketika aku mengunci pintu depan.

Lalu aku naik ke kamar mandi, dan menyikat gigiku, Sam menunggu diluar kamar mandi. Aku sedang membasuh mukaku ketika pintu kamar mandi diketuk.

“ Sebentar!” teriakku, mengambil handuk dan mengeringkan wajahku.

Gedoran di pintu semakin keras, gagang pintu dipaksa membuka, gedoran lagi. Kemudian aku mendengar seseorang mengerang.Aku mendengar suara hantaman di tembok. Kulempar handuk asal saja dan membuka pintunya.

Aku terkejut melihat Josh mencekik Sam dan menempelkannya ke dinding. Butuh waktu sedetik bagiku untuk bereaksi. Tanpa berpikir aku menarik tangan Josh.

“ Lepaskan dia! Lepaskan! Dasar bodoh!” aku meneriakinya.
“ No way!” balasnya dengan suara lebih keras.

Wajah Sam sudah memucat, mulutnya megap-megap kehabisan udara. Tangannya mulai terkulai, seringai kesakitannya mulai mengendur. Entah mendapat kekuatan dari mana, aku menonjok wajah Josh dengan sangat keras hingga ia melepaskan cengkeramannya di leher Sam. Sam merosot jatuh ke lantai, terengah-engah kehabisan napas.

Kemarahan membuncah dalam dadaku, rasanya seolah-olah ada seseorang yang menyurukkan timah panas kedalam rongga dadaku. Aku bisa mendengar geraman tertahan siap dilontarkan dari dalam dadaku.

“ Kenapa kau melakukannya! Dasar bodoh!” aku merenggut kerah bajunya dan membenturkan kepalanya ke tembok.
“ Dia pantas menerimanya!” dia kembali berteriak kepadaku, memandang ganas kearah Sam yang masih terduduk lemah.
“ Dia temanmu! Astaga! Memang apa salahnya?!” suaraku tak kalah garang.
“ Karena temanku itu berusaha merebutmu dariku!” teriaknya.

Hanya dibutuhkan satu kalimat itu untuk membuatku melepaskan cengkeramanku di kerahnya. Aku mundur beberapa langkah, sementara Josh semakin tersenyum puas dan melempar pandangan menghina pada Sam.

“ Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan. Dia sedang menjagaku, memangnya…”
“ Menjaga? Lalu mengapa ia sendirian? Dia mencuri kesempatan!” semburnya kepadaku.
“ Apa itu benar?” tanyaku pada Sam. Dia tidak menjawab dan tidak mendongak.
“ Lihat aku dan katakan yang sejujurnya!” aku memerintahnya.

Dia lalu mendongakkan kepalanya, memandangku dengan sorot memohon.

“ Kurasa itu cukup,” ujar Josh puas.

Aku menutup kedua telingaku, mundur langkah demi langkah menuju kamar. Kututup kedua telingaku, tak ingin lagi aku mendengar segala rahasia yang telah mereka pendam dariku. Tak ingin lagi. Aku sudah mendengar cukup.

Aku menggelengkan kepalaku, memejamkan mataku, dan ketika punggungku menyentuh pintu kamarku, aku merosot ke lantai. Masih menutup kedua telingaku dengan tangan. Aku tidak mau mendengarnya lagi, apapun itu.

Kurasakan tangan Sam menarik-narik kedua tanganku yang menutupi telinga. Kusentakkan tanganku dengan keras. Lalu, dengan spontan, aku berteriak.

“ KELUAR! Aku tak mau lagi melihat kalian! KELUAR!” ujarku. Tanganku disentakkan menjauhi telingaku, membuatku dapat mendengar kembali.
“ Buka matamu, Alice! Alice! Kumohon… ini hanya... kesalah pahaman…”
“ KELUAR!”
“ Alice…” Sam lagi-lagi berkata.
“ Kubilang KELUAR! Aku tak mau lagi melihat kalian berdua! Aku percaya pada kalian... ternyata selama ini kalian hanya mencari kesempatan! KELUAR!” aku menyemburkan kata itu tepat di wajah Sam yang kaget.
“ Alice… please… jangan,” ujar Sam, memohon.

Aku tidak menjawab apa-apa dan masuk ke kamarku, membanting pintunya. Langsung masuk dan membanting diriku di tempat tidur, menyelimuti diriku dengan bed coverku yang tebal. Pintuku diketuk. Aku berusaha mengabaikannya sebisaku.

Kukira selama ini aku hanya sebagai teman, teman seperjuangan yang harus mempertahankan diri dari cengkeraman jahat The Hunter. Lalu apa? Mereka manganggap dengan berada satu pihak denganku mereka bisa mengharapkan aku akan semudah itu jatuh cinta? Dasar cowok bodoh! Birthstone bodoh! Bah! Bah! Lupakan saja!

Entah kapan, namun aku tiba-tiba saja terlelap.

***

Lanjutan Birthstones (17)


Wajahku terbenam dalam dadanya yang bidang. Aroma tubuhnya yang menenangkan memenuhi paru – paruku. Dia memelukku semakin erat saat akhirnya aku menangis. Aku merasa tidak kuat menanggung ini semua, dan sepertinya Sam mengerti. Dia mengusap pelan punggungku, membisikkan kata - kata menenangkan ke telingaku sementara aku menodai kausnya dengan air mata.

Aku mulai kelelahan menangis, sehingga aku hanya terisak kecil. Sam masih terus memelukku, entah untuk berapa lama. Hingga seseorang berdeham. Sam lalu mengendurkan pelukannya, mengusapkan ibu jarinya di sepanjang jalur air mataku, dan pada saat Sam benar – benar melepaskan pelukannya, aku merasa kehilangan.
***
Seperti dugaanku, mulai sekarang sepertinya mereka takkan meninggalkanku tanpa pengawasan. Mereka semua menunggu di ruang tamu, hingga pada pukul 4 sore, sebagian besar sudah menuju rumah masing - masing. Tersisa hanya Tara, aku, Sam dan Josh di rumah.

Tak bisa kupungkiri. Aku tak kuat menghadapi ini semua tanpa mereka. Visi – visi itu semakin sering bermunculan. Terkadang tidak penting, hanya burung gagak, daun - daun pada musim gugur, hutan, suara tawa riang, seseorang menjerit, potongan – potongan kejadian itu terus bermunculan dengan interval yang tidak pasti, dan setiap aku mendapat visi, aku akan tersentak dan seluruh tubuhku menegang.

Sam dan Josh naik ke dapur lebih dahulu. Sementara Tara menemaniku mengabari Mom kalau aku sudah lebih sehat dan besok akan berangkat sekolah. Setelah menutup telepon, aku dan Tara beranjak menuju dapur, aku berhenti hanya 3 meter dari pintu dapur karena mendengar desisan marah Sam.

“ Kau tidak punya hak atas dia!” desisnya.
Aku telah dipilih, tapi kau masuk dan merusak segalanya, dia milikku!” balas Josh.
“ Dan siapa yang meng-klaim hal itu? Kau tetap tak punya hak atasnya. Aku bisa menjaganya lebih baik daripadamu!”
“ Siapa yang…”
“ Aku tidak akan menyerah, tidak kali ini, kita tak akan mempertaruhkan nyawanya lagi hanya karena keegoisan mu yang tak berujung. Aku mencintainya. Aku pernah mengalah untukmu, dan kau membuatku kecewa karena ternyata dia tidak bertahan!” desis Sam dengan nada yang lebih kasar, tegas.

Aku masuk kedalam dapur bersamaan dengan Tara. Josh dan Sam menoleh dan aku berusaha berpura - pura tidak mendengar apapun yang telah mereka katakan. Dengan senyum ceria – yang palsu – aku bertanya pada mereka.

“ Kalian lapar?” aku menoleh dari konter dapur.
“ Yeah… kelaparan,” ujar Sam, tersenyum dan menghampiriku. “ Butuh bantuan?” tanyanya.
“ Tidak, tidak, kalian kan tamu… biar aku yang memasak,” ujarku sambil mendorong dadanya. Lalu menuju kulkas dan mulai mengobrak – abrik isinya.
“ Kau mau masak apa?” tanya Tara penasaran.
“ Entahlah… kalian mau cream soup?” tanyaku.
“ Terserah kau saja,” ujar Josh sedikit ketus.
“ Kau punya masalah?” Sam memulai dengan nada tinggi, tapi Josh hanya mengangkat bahu.
“ Sudah sudah…” aku melerai mereka sambil mengiris daging ayam dan jamurnya.

Aku memasak dengan tenang, Tara bergumam kecil, mendendangkan lagu yang tak kukenal. Sam bersandar di kursi meja makan, earphone-nya sudah terpasang lagi. Sementara itu Josh hanya berdiam, cemberut di kursinya sambil melipat tangan di dada.

Ketika aku melapisi bagian atas mangkuk cream soup-ku dengan kulit pai, telepon berdering. Tara hanya mendongak sedikit, aku menyelesaikan satu mangkuk lagi, memasukkannya kedalam oven baru aku berlari menuju telepon.

“ Hartman’s residence,” sapaku sopan.

Tidak ada jawaban.

“ Halo?” tanyaku lagi.

Tetap tidak ada jawaban, aku langsung menutup telepon.

“ Siapa?” tanya Sam.
“ Entahlah, tidak ada jawaban,” ujarku ringan.

Aku kemudian duduk di samping Tara, Tara tersenyum tipis lalu mulai berbicara pada Sam. Maka aku memulai pembicaraan dengan Josh.

“ Hei,” sapaku.
“ Mmm…” dia hanya bergumam.
“ Kau baik – baik saja?”
“ Kelihatannya?”
“ Well, kau… terlihat agak… marah?” keraguan terdengar dalam pertanyaanku.
“ Memang,” ujarnya.
“ Kenapa?”
“ Kenapa apanya?”
“ Kenapa kau marah?” tanyaku, lagi.
“ Menurutmu?”

Belum sempat aku membuka mulut untuk menjawab, oven sudah berbunyi. Menandakan masakanku yang sudah matang. Dengan agak tergesa – gesa, aku mengambilnya dari oven, meletakkannya di piring saji lalu memberikan masing - masing dari mereka satu mangkuk. Aku duduk di tempatku tadi, mencelupkan kulit pai dengan tidak antusias kedalam sup-ku.

Kami makan dalam diam. Tara berkonsentrasi memakan sup-nya. Sam memakan sup bagiannya dengan tenang, sesekali melirik jendela dan pintu. Sementara Josh bersandar di kursinya, memainkan makanannya seperti anak kecil yang disuruh makan brokoli.